identity

beberapa hari yang lalu di jalan diriku merasa terganggu oleh suara rentetan klakson sepeda motor (dengan gaya suara "kampanye"). suara tersebut dibawakan oleh mereka yg naik motor dengan gaya yg sedikit urakan (karena semacam mereka bangga atas yg mereka lakukan) untuk mereka yang berpakaian gamis dan membawa bendera salah satu ormas islam.
hal tersebut membuatku merenung...

"branding identity seperti itukah yg seharusnya ditunjukkan oleh umat islam?"

***

suatu hari aku mengantar istriku jalan2 dan memang disengaja akan mampir ke sebuah toko busana muslim. sampai disana banyak baju dan jilbab dengan yang harga beraneka ragam, mulai dari jutaan sampai puluhan. yang menjadi pemikiranku; "dari baju yg berharga jutaan2 itu, kok malah banyakan dirasa kurang islami ya?"

kurang islami karena jilbab pasangan baju tsb (yg dipasangkan dimanekin baju tsb) tidak sampai menutupi dada. juga potongan pakaiannya mengikuti lekuk badan.

kemudian dengan harga2 yang segitu, apakah si pemakai nyaman?
maksudnya apakah zakat/sedekah mereka juga mengikuti atau berbanding lurus dengan harta yg dibelanjakan untuk pakaian tsb?

kemudian juga pertanyaan lain muncul dari diriku, "dengan berpakaian gamis (peduli dengan pakaian yg mahal ataupun murah) sudahkah kita merasa aman bahwa kita = islam?"

***

kembali ke bahasan "klakson", sepertinya sudah cukup dapat dibaca/diperkirakan bahwa tujuan si pengendara motor berbendera tsb adalah ingin menunjukkan diri/pamer/mensosialisasikan diri; "ini aku dengan ormas islam yg aku ikuti" atau setidaknya "aku bangga dengan islam bersama dengan ormasku".

lantas?

lantas, kenapa aku sewot atas hal tsb?

bukah kah itu tidak salah, bukan perbuatan dosa atau semacamnya, kecuali hanya aku yg merasa sedikit kurang nyaman (merasa sedikit terdzolimi sebagai sesama pengguna jalan). dan bukahkah niat mereka baik?

begini aku sewot karena bukankah seharusnya yang dikampanyekan ke masyarakat itu adalah "kami, umat islam adalah pemeluk agama yg menjadi rahmat seluruh alam".

yang dapat diartikan secara detil (setidaknya);

  • dengan kedatangannya lingkungan akan merasa nyaman dan aman atau minimal tidak merasa akan terganggu (karena muslimin harus meminimalisir sifat manusia yg perusak). karena bukankah akhlak itu tempatnya cukup tinggi dalam ajaran islam, bahkan rasulullah sendiri sebelum mengajarkan islam, beliau sudah dibersihkan hatinya agar dapat menyempurnakan akhlak manusia (menjadi tauladan tentang akhlak yg baik itu bagaimana).
  • minim mereka yang akan tersakiti hatinya atau terdzolimi oleh seorang muslim (yg sebenarnya), karena ajaran islam itu benar2 menjaga hati.
  • dengan kedatangannya suasana yg gelap, berubah menjadi terang, dengan tebaran senyum dan aura positifnya. (dengan energi positif muslim yang diajarkan melalui bahwa segala hal yg menimpa mereka adalah baik bagi mereka; ketika ditimpa kesedihan, mereka sabar, ketika mendapat kebahagiaan, mereka bersyukur)
  • dengan keberadaannya pendidikan tersebarluaskan, karena bagi seorang muslim ilmu harus dimanfaatkan.
  • hewan dan binatang tidak sembarangan dibunuhi, karena mereka makhluk yg diberi nyawa oleh Allah SWT dan alam dijaga karena manusia adalah pemimpinnya.
  • kesejahteraan masyarakat lebih terjaga karena adanya sistem zakat, infaq dan sedekah yg diamalkannya.
  • umat agama lain tidak merasa terganggu karena muslimin diajarkan untuk menghormati agama lain, tidak menghinanya, dan tidak pula menjelek2kannya. juga tidak akan "agresif" kecuali dia mendapatkan agresi atas agamanya.

lha atas hal diatas sudahkah penulis atau diriku bersifat demikian?

"beluuuum!!!!", "masih jauh.........", "masih dalam perjuangan keras untuk kesana....."

masih malu aku berkata, "saksikan bahwa diriku adalah seorang muslim"

apalagi untuk "sombong", "saksikan bahwa diriku adalah seorang muslim"

***

"semoga Allah membimbing kita para yg mengaku dan memang memeluk agama islam untuk dapat menjadi muslim yang sebenarnya.amin"

0 comments: